Kamis, 22 Desember 2011 @ 21.50 |
selamat pagi.
setiap pagi disambut lagi oleh kesendirian. mungkin temanku hanya kesendirian. paradox.
aku bangun dengan kesal, cemberut. kusut. nyawaku masih hanyut di dalam selimut.
sambil terlentang aku menjejakkan kaki turun dari ranjang. biar badanku jadi tak nyaman lagi, biar ada sedikit niat untuk menggelinjang. tapi tidak.
silau. salahkan aku karena memilih kamar yang menghadap ke timur tanpa sirip penangkal matahari. cahaya yang menerobos masuk berkata bahwa ini jam delapan pagi. panas.
tidak bisa. bahkan setidaknyaman-tidaknyamannya masih nyaman bagiku.
sial.
ini bukan duniaku. tidak punya semangat, inspirasi, motivasi. semua telah diambil dari padaku.
diambil?
aku menengkurapkan badanku, bersembunyi dari fakta bahwa ini adalah pagi hari. kembali meringkuk. mataku mencari-cari alasan untuk bangun.
laptop, alat elektronik penuh multimedia yang memberikan hiburan kepada siapa saja. aku hanya perlu duduk dan menikmati kecanggihan dunia maya, tidak perlu banyak bergerak. semua ada, dari musik, game, film kartun sampai film biru. ini saatnya bangun dan duduk di sana.
aku terus meyakinkan diriku begitu. meyakinkan bahwa ada sesuatu yang lebih menarik daripada hanya tidur. tapi gagal. film porno tidak lebih menghibur daripada tidur.
ini bukan duniaku. kembalikan duniaku.
ah, banyak yang bisa dilakukan, tapi bahkan niat untuk bangun saja aku tak punya. seandainya, seandainya aku tidak ada pun, dunia masih tetap berjalan. kalau nanti aku meninggal, sebenarnya orang-orang yang kuharap menangis untukku boleh jadi malah tidak peduli. apa gunanya bangun kalau mati pun tidak ada yang peduli? tidak. tidak boleh berpikir seperti itu. tapi aku tetap tidak menemukan alasan untuk bangun. ah, aku hanya ingin menggeliat-menggeliat malas saja hari ini.
malas. tentu, saat-saat tertentu, malas menjadi dapat dimaklumi. tapi tidak jika setengah tahun lebih selalu begini. ada yang tidak beres.